Friday, January 23, 2026

Menjaga Hafalan, Mengasah Ketangguhan: Santri Hidayah 2 Ikuti UKT Tarung Derajat

Bogor - Santri Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 2 kembali menunjukkan semangat dan prestasi dalam pengembangan diri di bidang olahraga bela diri. Pada Sabtu, 18 Januari 2026, santri Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 2 mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) Tarung Derajat yang diselenggarakan di Kota Bogor. 

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak tiga santri Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 2 turut serta sebagai peserta ujian, yaitu Abdullah Khoirul Azam, Rafi Uzzaman, dan Haikal Nurroihm. Ketiganya mengikuti rangkaian ujian dengan penuh semangat, disiplin, dan sportivitas.

Ujian Kenaikan Tingkat Tarung Derajat ini diikuti oleh sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai Satuan Latihan (Satlat) di Kota Bogor dan sekitarnya. Adapun Satlat yang berpartisipasi antara lain Satlat Universitas Pakuan (UNPAK), Satlat Al Ghazaly di Jalan Sumeru, Satlat Samsat Kota Bogor di Jalan Ir. H. Djuanda, Satlat IPB, Satlat SMA Rimba Madya, Satlat Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) di Jalan Sholeh Iskandar Kota Bogor, serta Satlat GOR Padjajaran.

Selain ujian kenaikan tingkat, kegiatan Tarung Derajat ini juga menjadi ajang silaturahmi dan latihan gabungan antar Satlat yang rutin dilaksanakan setiap hari Minggu mulai pukul 08.00 WIB di GOR Padjajaran Kota Bogor. 

Pengurus Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 2 menyampaikan apresiasi atas partisipasi santri dalam kegiatan positif ini. Keikutsertaan santri dalam UKT Tarung Derajat diharapkan dapat membentuk karakter disiplin, mental tangguh, serta fisik yang sehat, sejalan dengan pembinaan akhlak dan hafalan Al-Qur’an yang terus dikembangkan di lingkungan panti.

Melalui kegiatan ini, Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 2 berkomitmen untuk mendukung potensi santri tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga dalam prestasi olahraga dan pengembangan karakter secara menyeluruh.

 

Kegiatan Pekanan Bersih-Bersih Santri Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 2

Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 2 melaksanakan kegiatan pekanan berupa kerja bakti dan bersih-bersih lingkungan pada Sabtu, 17 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri dengan pendampingan langsung dari pengurus yayasan.

Kegiatan bersih-bersih meliputi area asrama, ruang belajar, masjid, serta lingkungan sekitar panti. Santri secara bersama-sama membersihkan, merapikan, dan menjaga kebersihan fasilitas panti sebagai bentuk pembiasaan hidup bersih dan bertanggung jawab. 

Pengurus yayasan menyampaikan bahwa kegiatan ini rutin dilaksanakan dengan tujuan menciptakan lingkungan yang sehat, bersih, dan nyaman, sehingga dapat menunjang proses belajar dan menghafal Al-Qur’an para santri. Lingkungan yang terjaga kebersihannya diharapkan mampu meningkatkan konsentrasi, kedisiplinan, serta kenyamanan santri dalam menjalani aktivitas sehari-hari. 

Melalui kegiatan pekanan ini, Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 2 tidak hanya menanamkan nilai kebersihan sebagai bagian dari iman, tetapi juga membentuk karakter santri agar terbiasa hidup tertib, peduli lingkungan, dan bekerja sama dalam kebaikan.

#pantiasuhanhidayah2 #pantiasuhanhidayah #Panti #Bogor #sehat




Monday, December 15, 2025

Gebyar Panti Hidayah 3 Candali: Menyatukan Dakwah, Kreativitas Santri, dan Semangat Wakaf

Gebyar Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 3 Candali menjadi salah satu kegiatan penuh makna yang mempertemukan nilai dakwah, kebersamaan, dan kepedulian sosial dalam satu rangkaian acara. Kegiatan yang dilaksanakan pada 14 Desember 2025 ini berlangsung dengan penuh antusiasme dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar.

Acara gebyar ini semakin semarak dengan kehadiran dan partisipasi santri Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 2 yang turut memeriahkan kegiatan di Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 3 Candali. Kehadiran para santri tidak hanya sebagai tamu, tetapi juga sebagai bagian aktif dalam rangkaian acara, menampilkan potensi, bakat, dan nilai-nilai pendidikan yang mereka miliki.

Salah satu penampilan yang menarik perhatian para pengunjung adalah hadroh yang dibawakan oleh para santri. Lantunan shalawat yang dikumandangkan dengan penuh semangat dan kekompakan menghadirkan suasana religius yang menyejukkan hati. Penampilan ini menjadi sarana dakwah yang lembut, sekaligus wujud kecintaan santri terhadap Rasulullah ﷺ dan tradisi seni Islami.

Tidak hanya berkontribusi melalui seni, para santri juga dilibatkan dalam kegiatan edukatif berbasis kemandirian ekonomi. Melalui jualan cilok dan rujak, santri belajar mempraktikkan nilai kejujuran, tanggung jawab, kerja sama, serta etika bermuamalah. Interaksi langsung dengan masyarakat menjadi pengalaman berharga dalam membentuk karakter santri agar siap hidup mandiri dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Puncak acara yang sarat makna dalam Gebyar Panti Hidayah 3 Candali ini adalah lelang wakaf yang diperuntukkan bagi pembangunan asrama santri. Lelang wakaf ini menjadi ajang bagi masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam amal jariyah, mendukung sarana dan prasarana pendidikan bagi para santri  penghafal Al-Qur’an. Antusiasme para donatur dan peserta lelang menunjukkan tingginya kepedulian umat terhadap keberlangsungan pendidikan tahfizh.

Secara keseluruhan, Gebyar Panti Asuhan Tahfizh Hidayah 3 Candali bukan sekadar acara hiburan, melainkan media silaturahmi, dakwah, dan edukasi. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pembinaan santri dapat dilakukan secara holistik, menggabungkan pendidikan Al-Qur’an, pengembangan bakat, serta penanaman kepedulian sosial sejak dini.

Diharapkan melalui kegiatan ini, ukhuwah antar panti semakin erat, dukungan masyarakat terhadap pendidikan tahfizh semakin kuat, serta lahir generasi Qur’ani yang tidak hanya unggul dalam hafalan, tetapi juga berakhlak mulia dan peduli terhadap sesama.

Sunday, August 15, 2021

Kisah Rasulullah Muhammad SAW Bagian 9

 Bagian 9

Pernikahan Abdullah dengan Aminah

Allah sudah menentukan bahwa jodoh yang paling tepat untuk Abdullah adalah Aminah binti Wahb. Aminah adalah gadis yang paling baik keturunan dan kedudukannya di kalangan suku Quraisy.

Musim semi tahun 570 Masehi pun tiba. Batang-batang gandum di Yaman tumbuh menjulang tinggi. Dedaunan kurma di kota Tha'if kembali bersemi. Sementara itu, padang-padang rumput dipenuhi harum bunga-bunga yang tumbuh di kebun-kebun.

Bagi penduduk Mekah, musim semi adalah tanda kebebasan dan dimulainya lagi perdagangan

musim panas ke Syria. Abdullah pun berniat pergi musim ini.

"Kanda, sebenarnya hatiku sangat berat melepas kepergianmu. Entah mengapa hatiku diliputi kekhawatiran dan kegelisahan. Aku bahkan berharap dapat menemukan suatu alasan untuk menahan kepergianmu," keluh Aminah kepada suaminya.

Abdullah tersenyum menentramkan, "Hatiku pun terasa tertinggal di sini, Dinda. Aku tahu begitu besar rasa sayangmu kepadaku sehingga engkau berharap dapat terus berada di sisiku."

"Bukan cuma itu, damai rasanya berada di sampingmu, Kanda."

Abdullah mengangguk, "Tetapi Dinda, kini di dalam perutmu ada bayi kita. Kau tahu aku adalah pemuda tak berada. Saat ini, kita hanya

mempunyai lima ekor kambing perah. Selain itu, tak ada lagi kekayaan yang dapat menghidupi kita berdua selain sedikit kurma dan daging kering. Karena itu, inilah saatnya bagiku untuk pergi berniaga dan menambah penghasilan kita."

Aminah terpaksa mengangguk menerima kenyataan itu. Ia memandang kepergian Abdullah dengan sendu, seolah itu adalah detik-detik terakhir ia dapat melihat wajah suaminya.

Hamzah bin Abdul Muthalib

Pada hari pernikahan Abdullah dengan Aminah, Abdul Muthalib pun menikahi sepupunya yang bernama Hala. Dari perkawinan ini, lahirlah Hamzah, paman Rasulullah yang seusia dengan beliau.

Abdullah Meninggal

Bersama kafilah dagang, Abdullah tiba di Gaza. Kemudian, dalam perjalanan pulang, ia singgah di

Yatsrib. Di sana, ia tinggal bersama saudara-saudara ibunya. Namun, ketika kawan-kawannya dari Mekah hendak mengajaknya pulang, Abdullah jatuh sakit.

"Rasanya, aku takkan kuat menempuh perjalanan pulang," kata Abdullah kepada kawan-kawannya. "Kalian berangkatlah dan sampaikan pesan kepada ayahku bahwa aku jatuh sakit."

Kawan-kawannya mengangguk, "Akan kami sampaikan pesanmu. Baik-baiklah engkau di sini."

Kafilah Mekah pun beranjak pulang. Ketika tiba di rumah, mereka menyampaikan pesan Abdullah kepada Abdul Muthalib.

"Harits!" panggil Abdul Muthalib kepada putra sulungnya. "Pergilah ke Yatsrib. Lihatlah keadaan adikmu. Jika sudah sembuh, jemputlah ia pulang."

Harits pun segera berangkat. Ketika tiba di rumah paman-pamannya di Yatsrib, yang ditemuinya adalah wajah-wajah duka.

"Abdullah telah meninggal," kata mereka kepadanya, "mari, kami antar engkau ke pusaranya."

Harits pun menyampaikan berita sedih itu ke Mekah. Melelehlah air mata di pipi Abdul Muthalib. Namun, kesedihan yang paling berat dirasakan oleh Aminah. Apalagi di saat itu ia tengah menantikan kelahiran bayinya.


"Selamat jalan, Kanda," isak Aminah, "hilanglah seluruh kebahagiaan hidupku bersamamu. Kini, tinggallah aku yang hidup untuk membesarkan bayi kita."

Tidak lama lagi, bayi Aminah akan lahir. Bayi yang kelak ditakdirkan Allah menjadi orang besar yang mengubah jalannya sejarah dunia.

Peninggalan Abdullah

Saat meninggal, Abdullah meninggalkan lima ekor unta, sekelompok ternak kambing, dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kelak menjadi pengasuh Rasulullah. Nama aslinya adalah Barokah. Ia berasal dari Habasyah.

Shallu 'alan Nabi...

Kisah Rasulullah Muhammad SAW Bagian 8

 Bagian 8

Kehancuran Abrahah

Allåhlah yang melindungi rumah suci-Nya. Ketika pasukan Abrahah bergerak mendekat, gajah Abrahah berhenti. Sekeras apa pun Abrahah memukulinya, gajah itu tetap duduk tenang, bahkan akhirnya berusaha berjalan lagi ke arah Yaman.

"Maju! Maju! Apa yang terjadi padamu?" bentak Abrahah pada tunggangannya.

"Dalam berbagai medan pertempuran, belum pernah kamu mengecewakan aku seperti ini! Kamu bahkan tampak ketakutan! Ada apa sebenarnya?"

"Paduka! Ada yang datang dari arah laut!" teriak seorang prajurit sambil menunjuk-nunjuk panik.

Saat itulah, dari arah laut, Allah mengirim kawanan burung yang kepakan sayapnya menutupi sinar matahari seperti iringan awan mendung yang bergerak cepat. Burung-burung itu menjatuhkan batu-batu menyala ke arah pasukan gajah. Dengan panik setiap orang berusaha menyelamatkan diri, tetapi sia-sia. Semua orang, termasuk Abrahah, mati.

Peristiwa ini Allah abadikan dalam surat Al Fil :

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأصَۡحََٰبِ ٱلۡفِيلِ

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

أَلَمۡ يَجۡعَلۡ كَيۡدَهُمۡ فِي تَضۡلِيلٖ وَأَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia?

وَأَرۡسَلَ عَلَيۡهِمۡ طَيۡرًا أَبَابِيلَ

dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,

تَرۡمِيهِم بِحِجَارَةٖ من سِ جيلٖ

yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,

فَجَعَلَهُمۡ كَعَصۡفٖ مَّأۡكُولِِۢ

lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Surah Al-Fil (105:1-5)


Wabah Penyakit

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dibawa burung itu adalah kuman kuman wabah penyakit cacar. Dalam beberapa hari saja seluruh pasukan mati dengan tubuh rusak seperti daun dimakan ulat.

Abrahah berhasil kembali ke Yaman, tetapi tidak lama setelah itu ia pun mati seperti pasukannya.


Kembali ke Mekah

Abdullah bin Abdul Muthalib tidak jadi disembelih karena telah ditebus ayahnya dengan 100 ekor unta.

Abdullah adalah pemuda yang berwajah tampan. Kegagahan parasnya banyak menarik perhatian gadis-gadis Mekah. Apalagi setelah mereka tahu bahwa nyawa Abdullah telah ditebus dengan 100 ekor unta, suatu jumlah yang luar biasa yang tidak pernah dialami seorang pun sebelumnya. Walaupun banyak gadis yang berusaha menggodanya, kesopanan Abdullah tetap terjaga.

Gadis yang Meminang

Setelah penebusan Abdullah, Abdul Muthalib menggandeng tangan putranya menuju rumah Wahb bin Abdul Manaf. Wahb mempunyai seorang putri bernama Aminah. Abdul Muthalib sudah sepakat dengan Wahb untuk menikahkan putra-putri mereka.

Namun, di tengah jalan, seorang gadis cantik menegur Abdullah, "Engkau akan pergi ke mana, wahai Abdullah?"

"Aku akan pergi bersama ayahku."

Tanpa memedulikan Abdul Muthalib, gadis itu berkata, "Kulihat engkau memang dituntun ayahmu, tak ubahnya seperti seekor unta yang akan disembelih. Demi engkau, aku akan menerimamu jika engkau mau menikahi diriku sekarang juga."

Abdullah terperangah. Ia menatap gadis itu dengan gugup.

"Siapakah gadis ini? Pikir Abdullah, "dilihat dari pakaiannya yang dipenuhi perhiasan mahal, ia pasti seorang gadis bangsawan. Matanya yang hitam memancarkan sinar yang teduh seperti yang biasa dimiliki gadis-gadis berperangai lemah

lembut dan penuh kasih sayang. Apa yang harus kukatakan kepadanya?"

Ketika Abdullah menoleh kepada ayahnya, dilihatnya Abdul Muthalib memberi isyarat agar Abdullah terus melangkah dan tidak menggubris sang gadis .

"Aku bersama ayahku." Aku tak kuasa menolak kehendaknya dan berpisah dengannya.

Abdullah kembali berjalan bersama ayahnya. Hatinya dipenuhi rasa iba dan simpati kepada gadis yang ditinggalkannya.

Hari itu juga, Abdul Muthalib datang ke rumah Wahb bin Abdul Manaf. Mereka sepakat menjodohkan Abdullah dengan Aminah.

Keesokan harinya, Abdullah bertemu lagi dengan gadis yang kemarin. Abdullah menyapanya,

"Mengapa engkau tidak menyapaku seperti kemarin?"

Gadis itu menjawab dengan ketus, "Sinar berseri-seri yang kemarin kulihat pada wajahmu sudah tidak ada lagi. Karena itu, sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu!"


Sinar Kenabian

Sinar berseri-seri yang dilihat sang gadis pada wajah Abdullah menurut sebagian ahli sejarah adalah sinar kenabian yang akan diturunkan Abdullah kepada putranya.

Ketika Abdullah sudah dijodohkan dengan Aminah, maka gadis itu sudah tidak bisa lagi berharap akan memiliki putra yang kelak menjadi nabi.

Shallu 'alan Nabi...

Milad Ke 3 YANBI

Alhamdulillah, YANBI pada tanggal 14 Agustus 2021 telah memasuki tahun ke 3 sejak didirikan tahun 2018.

Dalam rangka milad ke 3 ini, pengurus melakukan penanaman berbagai jenis pohon-pohonan seperti pohon  jengkol, para, duku, jambu,pala, rambutan dan jeruk lemon. Tanaman di tanam oleh anak-anak panti dan InsyaAllah kelak akan menjadi pohon pelindung dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan Panti Asuhan Hidayah 2.

Pohon-Pohon Penyejuk

Penanam Pohon oleh Santri PATH-2

Penanam Pohon oleh Santri PATH-2

Masjid YANBI


Saturday, August 14, 2021

Kisah Rasulullah Muhammad SAW Bagian 7

Bagian 7

Penyerbuan

Ternyata, apa yang diharapkan Abrahah tidak terjadi. Orang-orang Arab sudah sangat mencintai rumah purba Ka'bah sehingga mereka tidak dapat berpaling ke rumah suci yang lain, betapa pun indahnya bangunan itu dibuat. Orang-orang Arab merasa ziarah mereka tidak sah jika tidak mengunjungi Ka'bah. Bahkan, penduduk Yaman sendiri tidak mengindahkan rumah suci baru itu. Seperti biasa, mereka tetap berbondong-bondong berziarah ke Mekah.

"Tidak ada jalan lain!" geram Abrahah.

"Gerakkan pasukan gajah kita! Serbu dan hancurkan Ka'bah! Aku sendiri yang akan memimpin! Jika bangunan tua itu hancur dan rata dengan tanah, orang orang Arab tidak akan punya pilihan lain selain datang ke tempat kita!"

Sang Penguasa Yaman memang ditakuti orang karena pasukan gajah yang dimilikinya. Abrahah sendiri naik di atas gajah yang paling besar dan kuat.


"Maju!" perintahnya.

Terompet pun membahana dan bumi seolah-olah pecah oleh gemuruh pasukan yang maju ke medan perang.

Mendengar keberangkatan pasukan ini untuk menghancurkan Ka'bah, penduduk Jazirah Arab terkejut. Walaupun tahu pasukan Abrahah begitu kuat, jiwa kepahlawanan orang-orang Arab menjulang tinggi di hadapan musuh.

Dzu Nafar, seorang bangsawan Arab, mengerahkan masyarakatnya untuk menahan gerak maju Abrahah. Akan tetapi, ia dikalahkan dan ditawan.

Nufail bin Habib Al Khath'ami memimpin pasukan Kabilah Syahran dan Nahis. Namun, ia juga dikalahkan dan dijadikan penunjuk jalan pasukan Abrahah.

Al Qullayus

Al Qullayus adalah nama gereja yang dibangun Abrahah agar orang tidak lagi pergi ziarah ke Mekah, tetapi ke gereja ini. Mengetahui maksud Abrahah ini, bangsa Arab marah karena kecintaan mereka pada Ka'bah sudah mendarah daging.

Sementara itu, seseorang dari suku Kinani malah pergi memasuki Al Qullayus dan membuat

kerusakan di dalamnya. Peristiwa inilah yang memicu Abrahah untuk menghancurkan Ka'bah.


Sikap Penduduk Mekah

"Kita lawan mereka, Abdul Muthalib! Berikan peringatan kepada setiap orang untuk bertempur!"

Orang-orang Quraisy di Mekah panik. Mereka meminta pendapat Abdul Muthalib untuk bertempur. Abdul Muthalib tahu, sekeras apa pun mereka melawan, semuanya akan sia-sia. Pasukan Mekah akan ditaklukkan. Karena itu, ia menjawab dengan bijak,

"Tidak, kita tidak akan mampu. Seorang utusan Abrahah telah tiba dan menyampaikan keterangan bahwa Abrahah tidak akan memerangi kita. Abrahah hanya ingin menghancurkan Ka'bah. Kita akan selamat jika tidak menghalanginya. Aku

sarankan semua orang pergi mengungsi ke gunung-gunung di sekeliling kota."

Abdul Muthalib kemudian mendatangi markas Abrahah bersama beberapa orang pemuka Mekah.

"Kembalikan unta-unta kami yang dirampas pasukanmu," kata Abdul Muthalib kepada Abrahah.

"Akan kukembalikan unta-unta itu! Apakah ada hal lain yang engkau minta?" tanya Abrahah.

"Urungkan niatmu untuk menghancurkan Ka'bah. Jika engkau mau, kami akan berikan sepertiga harta dari daerah Tihama yang subur."

Abrahah menggeleng, "Tidak."

"Kalau begitu, kami serahkan pengamanan Ka'bah kepada Tuhan pemilik Ka'bah!" jawab Abdul Muthalib, lalu dia pergi.

Kini kota Mekah kosong. Penduduknya telah mengungsi. Jalan lebar terbuka bagi Abrahah untuk menghancurkan Ka'bah yang letaknya sudah di depan mata.

Tidak ada yang mampu menghalangi kekuatan sebesar itu

Catatan

Abrahah Al Asyram

Abrahah Al Asyram bukanlah penduduk asli Yaman. Ia datang dari negeri Habasyah di Afrika, kemudian menduduki Yaman.

70.000 pasukan Habasyah yang dipimpin Aryath berhasil mengalahkan Yaman. Akan tetapi, Aryath kemudian dibunuh oleh Abrahah. Sejak itulah Abrahah memerintah Yaman.

Shallu 'alan Nabi...

Jangan Lupa Untuk Melihat Tayangan Ini!